RUFAIDAH HOME CARE

Beranda » Keperawatan Komunitas » SKRIPSI : GAMBARAN KONSEP DIRI PENDERITA FILARIASIS LIMFATIK (ELEPHANTIASIS) DI KOTA TANGERANG SELATAN

SKRIPSI : GAMBARAN KONSEP DIRI PENDERITA FILARIASIS LIMFATIK (ELEPHANTIASIS) DI KOTA TANGERANG SELATAN

Mari berteman

RHC Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

Skripsi, Desember 2010

 

Zhiyya Urrahman, NIM : 106104003523

 

Gambaran Konsep Diri Penderita Filariasis Limfatik (Elephantiasis) Di Kota Tangerang Selatan

xx + 100 halaman, 6 tabel, 4 Bagan, 8 lampiran

 

ABSTRAK

Data Dinas Kesehatan Kota Tangerang selatan tahun 2009 terdapat empat kecamatan yang memiliki penderita elephantiasis yaitu Ciputat, Pondok Aren, Setu, dan Pamulang dengan rata-rata Mf rate >1. Elephantiasis menyebabkan kecacatan fisik. Kecacatan fisik berupa pembesaran pada kaki, tangan, alat kelamin dan payudara akan mempengaruhi pandangan psikologis serta stigma masyarakat sehingga berdampak pada pembentukan konsep diri. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran konsep diri penderita kaki gajah (elephantiasis). Konsep diri meliputi gambaran diri (body image), ideal diri, harga diri, peran, serta identitas diri

Jenis penelitian adalah kualitatif dengan desain fenomenologi. Jumlah informan sebanyak lima orang informan kunci dan tujuh orang informan pendukung terdiri dari keluarga dan petugas puskesmas, teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan observasi.

Hasil penelitian didapatkan gambaran diri baik dimana mereka menerima keadaannya, ideal diri positif, harga diri yang tinggi, peran yang tidak berubah serta identitas diri baik sehingga memiliki konsep diri yang konstruktif. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya dari hasil penelitian, yaitu 1) tingkat pengetahuan; 2) lama menderita; 3) faktor keyakinan spiritual atau agama; 4) dukungan keluarga; 5) orang lain (masyarakat).

Dalam penelitian ini disarankan untuk keluarga membantu mengoptimalkan kemampuan dan peran seperti pencari nafkah bagi penderita sesuai dengan kemampuannya. Dinas Kesehatan untuk mengoptimalkan penyuluhan mengenai elephantiasis agar tepat diterima oleh penderita dan meningkatkan peran kader kesehatan. Memberikan prioritas dan peningkatan program pemberantasan elephantiasis seperti melakukan sosialisasi, edukasi dan skrening kesehatan sebelum melakukan pengobatan massal anti filaria.

Kata  kunci      : elephantiasis, filariasis, konsep diri

Bibliografi       : 34 (1994-2010)

 

BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar belakang masalah

Filariasis merupakan salah satu penyakit tertua yang paling melemahkan yang dikenal di dunia. Penyakit kaki gajah (filariasis) adalah penyakit menular menahun yang tidak menimbulkan kematian tetapi menimbulkan kecacatan terbesar didunia setelah kecacatan mental (Depkes RI, 2003).

Limphatic Filariasis atau yang di sebut juga Elephantiasis adalah penyakit parasit dimana cacing filaria (Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan timori) menginfeksi jaringan limfe (getah bening). Parasit ini ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk yang telah terinfeksi, dan kemudian menjadi cacing dewasa dan hidup di jaringan limfe. Orang yang terkena penyakit ini sering tidak dapat melakukan pekerjaan karena kecacatan mereka atau karena sebagian orang enggan berdekatan dengan mereka (Depkes RI, 2008).

Parasit filaria dewasa hidup pada sistem limfatik yang merupakan komponen esensial sistem pertahanan tubuh yang menghasilkan larva immatur mikrofilaria yang bersirkulasi di dalam darah dan dapat ditemukan setelah enam bulan sampai satu tahun, setelah terinfeksi bisa bertahan 5-10 tahun.  Filariasis merupakan penyakit yang jarang terjadi pada anak-anak, manifestasi klinisnya timbul setelah bertahun-tahun, biasanya terjadi setelah usia diatas 30 tahun pasca terpapar parasit selama bertahun-tahun (Widoyono, 2008).

Di Indonesia penyakit Kaki Gajah tersebar luas hampir di seluruh propinsi. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) nasional tahun 2007, sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi filariasis diatas prevalensi nasional (Mf rate >1%), yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Papua Barat dan Papua. Jumlah penderita Filariasis yang dilaporkan dari tahun ke tahun menunjukkan adanya peningkatan. Dalam 5 tahun terakhir dari tahun 2003 hingga 2008 terdapat peningkatan yang sangat tinggi. Pada tahun 2003 jumlah kasus yang dilaporkan sebanyak 6.571 kasus. Pada tahun 2008 dilaporkan terdapat 11.699 kasus Filariasis di Indonesia. Tiga provinsi dengan kasus terbanyak berturut-turut adalah Nanggroe Aceh Darussalam, Nusa Tenggara Timur dan Papua (Ditjen PP-PL Depkes RI, 2008).

Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) telah mencatat sekitar 400 lebih kota atau kabupaten yang mengidap filariasis ini, dengan 318 diantaranya termasuk daerah endemis. Berdasarkan data Departemen Kesehatan, sampai Oktober 2009 penderita kronis filariasis tersebar di 386 kabupaten/kota di Indonesia. Sedangkan hasil pemetaan nasional diketahui prevalensi mikrofilaria sebesar 19%, artinya kurang lebih 40 juta orang di dalam tubuhnya mengandung mikrofilaria (cacing filaria) yang mudah ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Selain itu, mereka menjadi sumber penularan bagi 125 juta penduduk yang tinggal di daerah sekitarnya. Kecacatan akibat filariasis dapat dicegah dengan mengikuti pengobatan massal di wilayah endemis, menghindarkan diri dari gigitan nyamuk, juga membersihkan lingkungan tempat perindukan nyamuk.

Provinsi Banten terdiri dari 4 kabupaten, menurut hasil dari Riset Kesehatan Dasar provinsi Banten tahun 2007,  persentase filariasis klinis terdeteksi dengan gejala (DG) di 4 kabupaten, yaitu ; Pandeglang (0,05%) ; Lebak (0,05%); Tangerang (0,13%); serta Serang (0,03)% dengan prevelensi rata-rata provinsi (0,06%). Kabupaten Tangerang prevalensinya tertinggi dan termasuk endemi karena lebih tinggi dari prevalensi Provinsi Banten (0,06%) maupun nilai rata-rata nasional dari 33 provinsi (0,07%) yaitu lebih dari 1 orang  per mil (0,13%),

Kabupaten Tangerang sendiri terdiri atas kota Tangerang dan Tangerang Selatan yang terbentuk pada tahun 2008 lalu. Menurut data Dinas Kota Tangerang Selatan tahun 2009, sejak tahun 2002-2009 terdapat empat kecamatan yang memiliki penderita filariasis yaitu Ciputat 10 orang), Pondok aren (15 orang), Setu (6 orang), dan Pamulang (16 orang). Selain itu, menurut Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tiga kecamatan di Tangerang Selatan lainnya, yakni Serpong, Serpong Utara,  Ciputat Timur termasuk daerah rawan filariasis. Hal ini dikarenakan wilayah Kota Tangerang Selatan  yang daerah pemekaran baru merupakan daerah berawa, dimana merupakan tempat berkembangbiaknya nyamuk penyebab penyakit kaki gajah, selain itu berbatasan dengan daerah endemik filariasis lainnya seperti Parung dan Depok.

Penyakit kaki gajah (Elephantiasis) merupakan penyebab utama kecacatan fisik, stigma sosial, serta hambatan psikologi yang menetap. Dampak fisik dari penyakit ini adalah menurunnya produktifitas kerja individu, keluarga dan masyarakat sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bila tidak dilakukan pengobatan yang adekuat.  Mengakibatkan pula kecacatan yang menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan payudara serta alat kelamin baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini berakibat pada penderita yang tidak dapat bekerja optimal bahkan sebagian besar tidak mampu lagi untuk bekerja sehingga menjadi beban keluarga, masyarakat dan negara. Seringnya serangan akut pada penderita filariasis juga menurunkan produktifitas kerja sehingga akhirnya semakin memperberat masalah ekonomi dan akhirnya meningkatkan kemiskinan. Penderita yang sudah cacat biasanya akan merasa rendah diri dan mengasingkan diri dari masyarakat. Selain itu mereka tidak dapat bekerja dengan baik sehingga hidupnya sehari-hari tergantung kepada orang lain.

Selain gangguan fisik yang beakibat pada menurunnya kemampuan berproduktifitas sehingga menimbulkankan masalah ekonomi dan meningkatkan kemiskinan, filariasis juga berdampak pada psikologis penderita yang akhirnya menggganggu pembentukan konsep dirinya. Manifestasi klinis filariasis akut seperti pembesaran kaki, lengan, payudara serta alat kelamin dapat memberikan gambaran yang menakutkan, manifestasi klinis tersebut akan menimbulkan perasaan malu, rendah diri, depresi, menyendiri, atau menolak diri, serta masyarakat akan mengucilkan pasien filariasis.

Dampak sosial terhadap penyakit filariasis ini sedemikian besarnya, sehingga menimbulkan keresahan yang sangat mendalam. Tidak hanya pada penderita sendiri, tetapi pada keluarganya, masyarakat dan negara. Hal ini yang mendasari konsep perilaku penerimaan penderita terhadap penyakitnya, dimana untuk kondisi ini penderita masih banyak menganggap bahwa penyakit filariasis merupakan penyakit menular, tidak dapat diobati, dan menyebabkan kecacatan. Akibat anggapan yang salah ini penderita filariasis merasa putus asa sehingga tidak tekun untuk berobat. Hal ini dapat dibuktikan dengan kenyataan bahwa penyakit filariasis mempunyai kedudukan yang khusus diantara penyakit-penyakit lain.

Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda-beda tergantung pada asal penyakit, reaksi orang lain terhadap penyakit yang dideritanya, dan lain-lain. Penyakit dengan jangka waktu yang singkat dan tidak mengancam kehidupannya akan menimbulkan sedikit perubahan perilaku dalam fungsi klien dan keluarga. Sedangkan penyakit berat, apalagi jika mengancam kehidupannya dapat menimbulkan perubahan emosi dan perilaku yang lebih luas, seperti ansietas, syok, penolakan, marah, dan menarik diri.

Setiap orang memiliki peran dalam kehidupannya. Saat mengalami penyakit, peran-peran klien tersebut dapat mengalami perubahan. Perubahan tersebut mungkin tidak terlihat dan berlangsung singkat atau terlihat secara drastis dan berlangsung lama. Individu/keluarga lebih mudah beradaptasi dengan perubahan yang berlangsung singkat dan tidak terlihat. Penyakit kronis dapat mempengaruhi kemampuan untuk memberikan dukungan finansial, oleh karenanya juga mempengaruhi nilai diri dan peran di dalam keluarga. Perubahan ini dapat menggangggu konsep diri.

Konsep diri berperan penting dalam hubungan seseorang dengan anggota keluarganya yang lain. Klien yang mengalami perubahan konsep diri  karena sakitnya mungkin tidak mampu lagi memenuhi harapan  keluarganya, yang akhirnya menimbulkan ketegangan dan konflik. Akibatnya anggota keluarga akan merubah interaksi mereka dengan klien.

Didalam konsep diri terdapat lima elemen yang mendasari, yaitu ; gambaran diri, ideal diri, harga diri, peran, dan identitas diri. Jika elemen atau bagian dari konsep diri tersebut ada yang tidak terpenuhi, maka bisa dikatakan terjadi gangguan dalam konsep diri.

Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gambaran konsep diri pasien dengan filariasis limfatik (elephantiasis) di Kota Tangerang Selatan Tahun 2010.


27 Komentar

  1. euis mengatakan:

    heyyy… aku minta info alamatnya donk di daerah tangerang tentang penderita kaki gajah ini… soalnya aku juga mau ambil materi tentang coping stress terhadap penderita kaki gajah bwat tugas metode penelitian aku nie… thanks sbelum nya… mohon bantuannya yaa….^_^

    • Zhiyya Urrahman, S.kep mengatakan:

      aku penelitian di Tangerang Selatan, untuk penderita ckup trsebar dibbrapa kecamatan, mgkin km bisa langsung ke Dinkes atau kesini aja nanti ak bantu ke penderitanya.

      • euis mengatakan:

        aduhhh… kayanya ribet bgt ya klo ke dinkes nya….hehehehe klo langsung ke objeknya aja gmana yaaa???? bisa ksh tw t4nya dimana ga???

      • Zhiyya Urrahman, S.kep mengatakan:

        bisa ajja, didaerah setu, kranggan pamulang.
        klo km mw km ksini ajj nanti ak anter ke orangnya langsung.

  2. sarastika mayansari mengatakan:

    haay, aku boleh tau nggax lanjutan bab 2 dan bab 3ny
    aku terarik banget ma materinya buat tugas metode penelitian juga
    untuk saat ini kasus filariasis jg byak terjadi di prov. jambi

    • Zhiyya Urrahman, S.kep mengatakan:

      emng km mw penelitian filariasis jga ya? mw penelitian di jambi? ya ak tau dijambi terutama daerah muaro jambi banyak kasus filariasis cz ak jg org jambi.
      kasih aj email atau apa aja biar gmpng ngrim.

  3. sarastika mayansari mengatakan:

    rencananya sih iya
    ni jg lgi proses pengambilan data
    aq jg ngambilnya di muaro jambi
    sebelumnya makasih ya
    ni alamat email aq : stikbalovers@yahoo.com

  4. euisph mengatakan:

    okehh… mksh infonya aqu kmrn udah dapet di daerah bogor kok.. oiya aqu juga mw tw lanjutan bab 2 n 3 nya donk… tolong bantu yaaa…. mksh sebelumnyaa… ^_^

  5. hamdan mengatakan:

    asslmkm…
    halo saya hamdan kesmas umj
    tertarik juga untuk mengangkat skripsi mengenai filariasis khusunya di tangerang.
    apakah di tengerang masalah ini sudah tertangani dengan baik apa belum ya… boleh saya kenalan mas facebooknya mungkin

    • Zhiyya Urrahman, S.kep mengatakan:

      waalaikumsalm… klo dilihat dri data smnjak 2002, jumlh penderita filaria di tangsel terus meningkat, tp klo u/ program penaggulangn sih sya liat megikuti program yg dicanagkan pemerinah cm mgkin plaksaan masih agak kurang, paling yg terlihat pengobatan masal ajj.bole search ajja ziy rakel ya.

  6. megame mengatakan:

    maap mas, mau tau dari universitas dan kota apa ya? mau saya tuliskan dalam daftar pustaka tugas akhir saya. makasi ya, tulisannya membantu dalam memberikan informasi tentang filariasis.

    • Zhiyya Urrahman, S.kep mengatakan:

      PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA, THX YA .. SEMOGA TULISAN SAYA BISA BRMNFAAT.

  7. Hepy mengatakan:

    Maz aq juga tertarik niy, mohon kirim lanjutan bab 2&3nya ke hepyque@yahoo.co.id ma minta no hpnya yak
    jd bisa tanya2 skalian…..

  8. Siti Malati Umah mengatakan:

    Kak, aku mau donk Bab 2 n Bab 3 nya juga, ini ada tugas kuliah tentang sosial budaya penderita filariasis. aku adek kelas di kesmas kak. Terimakasih.

  9. Siti Malati Umah mengatakan:

    o, ia ini emailnya elummah35@yahoo.co.id, sebelumnya terimakasih kak.

  10. mega mengatakan:

    asslamualaikum..
    maaf ka boleh saya minta data BAB II dan III nya ?

  11. Puji Rahayu mengatakan:

    Sist ..ada lanjutan bab II III dan selanjutnya gakk ya …aku tertarik mau buat peneltian juga di kota bekasi, krm ya ke emailku …mksh sblmnya

  12. Puji Rahayu mengatakan:

    Ini emaiku ayoedinkes@yahoo.com. Makasih atas bantuannya

  13. Mahendra mengatakan:

    Aku lagi nyusun proposal mengenai konsep diri, boleh minta bab 2 dan bab 3, sama semua lampirannya terutama kuisonernya, boleh kirim email aja? ini emailku

  14. pippo mengatakan:

    ass saya muhammad hidayatullah dari universitas muhammadiyah jakarta…saya jg tertarik dengan masalah filariasis ini sebagai skripsi saya …bolehkah saya bagi bab 2 dan bab 3 nya.masukan utk skripsi ini apa y ..ini alamat email saya : pippo_brengsek@yahoo.com

  15. ADMIN mengatakan:

    kalo teman2 perawat butuh lebih, email saja ke yazid_yo09@yahoo.com

  16. abdulhalim mengatakan:

    kak saya juga butuh untuk tugas, mohon kirimkan yaa contoh skripsinya mengenai filariasis.. tolong kirimin di,,, abdulhalimwakai@gmail.com….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: